Waspadai Ambang Batas Bahaya Particulate Matter (PM)2.5 Di Udara

Waspadai Bahaya  Particulate Matter (PM)2.5


Haloo sobat saintis pedia,,,,

    Kalian udah tau belum nichh,,, dunia udah diambang batas bahaya terkait persebaran partikulat di udara????

        Partikulat yang berada di udara biasanya mengandung logam ringan, seperti Na, K, Ca, Mg, dan Al serta logam berat yang berupa Fe dan Zn. Pada partikel halus dapat ditemukan berbagai logam, seperti Cd, Cr, Cu, Ni, Mn, dan Pb (Hieu & Lee, 2010). Salah satu parameter terkait partikular dikenal sebagai Particulate Matter. Partikel tersebut dapat berupa debu, kotoran, maupun asap yang masih bisa dilihat oleh mata secara langsung, sedangkan partikel yang berukuran sangat kecil hanya dapat dideteksi dengan mikroskop elektron (Akselerator et al, 2007). Particulate Matter dapat dibedakan menjadi PM 1.0, PM 2.5, dan PM 10 (Maksum & Tarigan, 2022). Jenis partikulat yang saat ini banyak diteliti karena sifatnya yang dapat menembus sampai bagian paru paling dalam dan kandungannya yang dapat beredar dalam aliran darah adalah PM2,5 (Sembiring  2020). 

Seberapa bahaya si dampak PM 2.5???😯


        Persebaran PM2,5 yang terhirup masuk ke dalam alveoli dapat menimbulkan reaksi radang yang dapat menyebabkan daya kembang paru menjadi terbatas dan dapat mengakibatkan penurunan fungsi paru pada manusia (Nirmala, 2015). Berbagai material yang terkandung dalam PM2,5 ini dapat menyebabkan berbagai gangguan saluran pernafasan seperti infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), kanker paru-paru, kardiovaskular, kematian dini, dan penyakit paru-paru obstruktif kronis. Paparan PM2,5 dapat mengurangi angka rata-rata angka harapan hidup sebanyak 8,6 bulan.
        Beberapa penelitian di Indonesia juga telah membuktikan adanya hubungan PM2,5 dengan gangguan fungsi pernafasan. Penelitian pada pedagang tetap Kota Depok menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara gangguan fungsi paru dengan asupan yang melebihi dosis referensi (WAQI, 2019). Penelitian pada pedagang tetap di Kampung Rambutan juga menunjukkan risiko penurunan fungsi pernafasan akibat paparan PM2,5 dalam pajanan realtime dan lifespan 30 tahun (Falahdina, 2017). 

Apakah PM2,5 dapat diukur???😔


        Pengukuran PM 2,5 dapat dilakukan dengan menggunakan alat sampel berbasis digital yaitu Haz- Dust EPAM 5.000 USA. Alat tersebut digunakan dengan metode laser analyzer untuk melakukan pengukuran pada partikulat (Novirsa & Achmadi , 2012). Dari alat tersebut memperoleh hasil pengukuran yang dapat dibaca secara langsung setelah dilakukan pengukuran kemudian membaca nilai melalui Time Weighted Average (TWA). Pengukuran PM2,5 disesuaikan dengan kondisi lingkungan kemudian akan dibandingkan dengan Nilai Ambang Batas (NAB) atau baku mutu partikulat di udara.
        Di Indonesia, informasi kualitas udara untuk sekarang diperoleh dari hasil pengukuran menggunakan peralatan otomatis yang beroperasi pada beberapa instansi pemerintahan. BMKG salah satu instansi pemerintahan yang menggunakan peralatan otomatis MetOne Βeta-Ray Attenuation Monitors (BAM) 1020 untuk pengukuran PM2,5.

Adakah solusi pengendalian PM2,5???😵

       Berdasarkan pemaparan tersebut maka sangat penting bagi kita agar dapat meminimalisir terjadinya peningkatan PM 2.5. Beberapa solusi untuk mengatasi cemaran PM2.5 sebagai berikut:

1. Mengurangi emisi 

        Asap kendaraan bermotor menjadi sumber utama polusi udara. Oleh karena itu perlu untuk    mengurangi kebiasaan menggunakan kendaraan bermotor dengan beralih ke transportasi       umum. 

2. Memilih produk hemat daya dan ramah lingkungan

        Penggunaan perlengkapan yang hemat energi seperti lampu LED dan perangkat elektronik     yang             hemat daya juga dapat menjadi salah satu cara untuk menghemat pengeluaran         dan melindungi                 lingkungan.  

3. Tidak membakar sampah

    Pembakaran sampah akan menghasilkan karbon monoksida (CO) yang mana jika udaranya terhirup       akan berdampak buruk bagi kesehatan tubuh. Selain karbon monoksida, asap pembakaran sampah        akan menghasilkan gas yang beracun. 

4. Hindari penggunaan bahan kimia berlebihan

    Mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia berlebihan, misalnya pada cairan pembersih rumah. Hal    ini dapat diatasi dengan menggunakan produk serupa dengan kandungan bahan yang lebih ramah            lingkungan serta tentunya dengan penggunaan secukupnya sesuai dengan kebutuhan. 

5. Menerapkan prinsip 3R

    Kita dapat membantu meminimalisir sampah, belajar untuk memilah sampah, juga mendaur ulang        sampah menjadi barang-barang yang bermanfaat. Dengan demikian tentu emisi polusi udara, tanah,        dan air dapat menurun. 

6. Mengurangi Pemakaian Kantong Plastik

   Seperti yang kita ketahui bahwa plastik dapat berbahaya bagi lingkungan, karena sampah plastik           membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat terurai. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk       meminimalisir penggunaannya, misal dengan cara membawa tas belanja sendiri (Halida, 2022).


Referensi:

Akselerator, P., Bahan, P., & Batan, Y. (2007). Kajian Sistem Electrostatic Precipitator Untuk Pengendapan Debu Gas Buang Prayitno, Tunjung Indrati. Ilmiah Teknologi Akselerator dan Aplikasinya, 9.

Falahdina, A. (2017). Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan Pajanan PM2,5 pada Pedagang Tetap di Terminal Kampung Rambutan. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Halida, Cindy. (2022). 7 Cara Mengatasi Pencemaran Udara yang Bisa Kita Lakukan. Diakses dari https://www.ruparupa.com/blog/cara-mengatasi-pencemaran-udara/ pada 7 Mei 2023 pukul 21.00 WIB. 

Novirsa, R., & Achmadi, U. F. (2012). Analisis risiko pajanan PM2, 5 di Udara ambien siang hari terhadap masyarakat di Kawasan industri semen. Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal), 7(4): 173-179.

Sembiring, Elsa Tey Julita. (2020). Resiko Kesehatan Pajanan PM2,5 Di Udara Ambien Pada Pedagang Kaki Lima Di Bawah Flyover Pasar PagI Asemka Jakarta. Jurnal Teknik Lingkungan,  26(1): 101-120. 


Ferry Kurnia Sari
Universitas Negeri Yogyakarta

01 Mei 2023


         

Komentar